Selasa, 31 Agustus 2010

Konfrontasi - Agresor.


KEDAULATAN WILAYAH TERITORRIAL (EMBRIO) NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Pada Sidang BPUKPI tanggal 10 Juli 1945 dalam rapat telah memutuskan bahwa bentuk Negara adalah Republik (55) yang memilih kerajaan (6) dan lain – lain (1) serta blanko (1).

TERITORIIALNYA ADALAH :

BEKAS WILAYAH JAJAHAN HINDIA BELANDA PLUS Malaya, Borneo Utara, Timor – Timur, dan Papua seluruhnya dengan pulau – pulau di sekelilingnya”.

Keputusan tersebut dilaporkan kepada Gun Seiken Kaka (Kepala Peme- rintahan Militer Jepang) pada 18 Juli 1945 dengan No. surat D.K/1/17.9.

Perlu diketahui bahwa wilayah territorial bagi Indonesia Merdeka adalah bekas wilayah kedaulatan kerajaan Majapahit bukan bekas wilayah pendudukan Pemerintahan Belanda. Ini yang sering tidak dipahami oleh kita semua. Hal ini dikuatkan lagi atas pertanyaan Laksamana A. L Jepang/Panglima Perang Wilayah Selatan yakni Terauchi,di Dalat dekat Saigon, Vietnam pada 11 Agustus 1945 kepada Bung Karno – Hatta bersama Dr. KRT. Rajiman Widiodiningrat. “Apakah kepulauan Salomon tidak termasuk yang disebut Indonesia itu ? “. Dijawab tegas oleh Bung Karno, “TIDAK”!.

PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal – hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain – lain diselenggarakan dengan cara yang seksama dan dalam tempo yang sesingkat – singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus ’05 (note : 2605 Kalender Jepang atau 1945 Masehi)

Atas nama Bangsa Indonesia

SOEKARNO – HATTA

PERUBAHAN WILAYAH TERITORRIAL NEGERA PROKLAMASI R. I

Namun beberapa tahun paska PROKLAMASI wilayah NPKRI tsb. Banyak yg telah mendapatkan kemerdekakannya.

  • Seperti Malaysia, Singapura, Brunai, dan Patani yang kini merupakanwilayah Thailand, semua telah menjadi negara yang berdaulat, di kawasan Asia Tenggara ini demikian pula Philipina.
  • Dalam buku Risalah Sidang BPUPKI tersebut hal. xxxix – xl tertulis : “ …… Dalam sidang pertama tanggal 18 Agustus 1945 ini Ketua PPKI Ir. Soekarno menyampaikan kepada sidang bahwa ia telah memberitahukan kepada Marsekal Terauchi bahwa wilayah Negara Indonesia adalah hanya bekas Hindia Belanda”.

Sidang pembaca hendaknya kritis atas ke dua pernyataan tersebut mana yang benar ? Dalam jenjang kepangkatan perwira tinggi di jajaran Angkatan Laut umumnya menggunakan sebutan Laksamana bukan Marsekal, karena ini digunakan khusus oleh Angkatan Udara. Bila apa yang tertulis, tersurat itu benar adanya, lalu mengapa Bung Karno mati – matian melakukan konfrontasi dengan Malaysia ? Harap dipahami bahwa Bung Karno demi melaksanakan mandat rakyat Indonesia tahun 1945 itu, menentang pembentukan Negara Malaysia dari kaum kolonialis asing (Inggris). Sebab yang hendak didirikan negeri Malaysia itu berada dalam wilayah Nusantara, wilayah Indonesia yang telah diproklamirkan oleh Dwitunggal Soekarno – Hatta tanggal 17 Agustus 1945.

Oleh sebab itu sebagai solusinya Indonesia mendukung terbentuknya “MAPHILINDO” (singkatan dari Malaya, Philipina dan Indonesia) dan wilayah itulah yang disebut INDONESIA dalam naskah Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Gagagasan tersebut bukan merupakan kesatuan pemerintahan melainkan masing – masing memiliki kedaulatannya hanya secara periodik akan diadakan pertemuan secara rutin untuk pemberdayaan Maphilindo.

Dan Bung Karno menyerahkan sepenuhnya tentang Malaysia kepada rakyat di Kalimantan Utara itu sendiri guna melaksanakan adanya referendum.

Bung Karno menyatakan : “Bahwa perjuangan kita menentang Malaysia adalah amanat dari pada Deklarasi Kemerdekaan kita itu, oleh karena Malaysia adalah satu British neocolonialist project”.

Nah pemutar - balikan fakta sejarah ini, nampaknya terlihat pula dalam buku "Soekarno Penyambung Lidah Rakyat", terjemahan dari buku Cindy Adams " Soekarno Authobiografy as told to Cindy Adams", ada sisipan pada halaman 341 dimana naskah aslinya tidak ada, yang bunyinya "Soekarno tidak memerlukan Hatta dan Syahrir bahkan peranan Hatta dalam sejarah tidak ada". Wajar saja kalimat ini yang disangkanya keluar dari mulud Bung Karno, sehingga membuat berang mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Syamsul Maariif. Kompas, 6 Juni 2007, hal. 6. Lalu siapakah yang mereka yasa itu ? tentu sidang pembaca dapat menjawabnya dengan JASMERAH!

BAGIAN I

A.JUTAAN ORANG GUGUR SEBAGAI KUSUMA BANGSA & NEGARA

Adanya facum of power yang telah dimanfaatkan oleh para pendiri bangsa untuk memproklamirkan kemerdekaan bangsa adalah suatu berkah dan bukti bahwa kemerdekaan itu bukanlah pemberian hadiuah dari Pemerintahan Jepang! Nah akibat pilihan politis – moral & spiritual tersebut tantangan bangsa & Negara kala itu begitu hebat. Namun dengan semangat dan jiwa “AKU CINTA JIWAKU NAMUN AKU LEBIH CINTA NEGERIKU” telah membangkitkan semangat juang, semangat patriotic, heroisme, suka berkorban demi negeri yang dicintainya itu. Sehingga tekad “SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA”, menumbuhkan slogan “RAWE2 RANTAS MALANG2 PUTUNG – MATI SATU TUMBUH SERIBU – HOLOBIS KUNTUL BARIS DSBYA” guna mempertahankan Negara Proklamasi tsb.

Rakyat sangat merindukan pemimpinnya sehingga para pemuda mengoganisir terjadinya rapat raksasa pada 19 September 1945 guna mendapatkan amanat dari Presidennya secara langsung. Sejak pagi buta masyarakat dari berbagai pelosok Jawa Barat dan Jakarta, berbondong – bondong memenuhi Lapangan Ikada (Ikatan Athletik Djakarta, kini Lapangan Monas) hingga menjelang sore hari, terik panas dan bayonet serdadu Jepang serta “larangan rapat dari Jenderal Nagano” tak mampu menyurutkan mereka, dengan sabar menunggu kedatangan Bung Karno. Sementara Bung Karno sedang mengadakan rapat kabinet di gedung Mahkamah Agung (sekarang) untuk memutuskan menghadiri rapat tersebut atau tidak berhubung kondisi keamanan bagi para pemimpin Republik tidak kondusif. Dalam ketidak pastian itu Bung Karno memutuskan segera menemui rakyatnya. Maka pada jam 1600, 19 September 1945 bersama Bung Hatta, Dwitunggal masuk ke dalam iringan mobil yang dikawal ketat oleh para pemuda, sementara Daan Yahya dan Soebianto Joyohadikusumo naik sepeda motor sebagai voorrijder. Waktu sampai di Lapangan Ikada rakyat bersorak gemuruh dengan pekik “Hidup Bung Karno – Hidup Bung Hatta! Merdeka! Merdeka! Merdeka! Membahana seolah membuat Jakarta bergetar. Sebaliknya bagi para serdadu Jepang dengan bayonet terhunus mereka terbengong – bengong bercampur kecut masai dibuatnya.

Bung Karno dan Bung Hatta dikawal oleh Mufrani Mukmin bekas Shoodanchoo tentara PETA, Bung Karno menaiki podium. Pidatonya begitu singkat. Percayakah Rakyat kepada Pemerintah Republik Indonesia ? tanya Bung Karno. “Percaya”!, sahut rakyat serentak tak kalah menggelarnya. Bung Karno melanjutkan amanatnya. “Kalau begitu kami dari Pemerintah akan tetap menanggung jawab terhadap rakyat walaupun andai kata rakyat nanti akan merobek – robek dada kami. Sekarang saya minta dengan tenang dan tenteram, Saudara – Saudara pulang meninggalkan rapat dengan menunggu perintah dalam keadaan siap siaga”! Itulah pidato terpendek Bung Karno setelah Proklamasi .

Tak kurang 200.000 rakyat yang hadir mematuhi perintah Bung Karno. Setelah mereka meninggalkan Lapangan Ikada, dengan rasa bangga mereka berbaris keliling kota sambil menyanyikan lagu “Dari Barat Sampai Ke Timur dll.

Pasukan Sekutu yang pertama mendarat di Tanjung Priok, pada 29 September 1945, tak kurang dari 2.000 serdadu Inggris. Pada hari itu Letnan Jenderal Sir Philip Christinson, Panglima Allied Forces Nertherlands East Indies (AFNEI) memberikan keterangan kepada pers yang disiarkan oleh radio Singapura. Keterangannya amat menggemparkan pihak Belanda karena mengakui Republik Indonesia sebagai suatu realitas yang bantuannya dibutuhkan dalam melaksanakan misi tentara Sekutu. Suatu pengakuan defacto terhadap Republik. (Paska Proklamasi Negara & Revolusi, Soebadio Sastrosatomo, Majalah Mawas Diri September 1995, hal. 39 – 51).

Sebagaimana perjuangan itu mengenal pasang surut, setelah Bandung dikuasai oleh Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada akhir Sepember 1945, Kemudian Jepang berbalik menguasainya kembali, sehingga tatkala tentara Sekutu tiba pada pertengahan Oktober, Bandung telah sunyi semangat revolusinya. Sementara di Semarang, Kidobutai menyerang pemuda Indonesia, akibatnya kurang lebih 2.000 orang tewasdalam pertempuran yang berlangsung enam hari itu.

Pada 5 Oktober 1945 Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk dan pada 20 Oktober 1945 Presiden Soekarno mengangkat :

  • Menteri Keamana Rakyat ad in : M. Soeljoadikoesoemo.
  • Pemimpin tetinggi TKR : Supriyadi
  • Kepala Staf Umum : R. Urip Somaharjo.

Saat konferensi TKR, Supriadi tidak terlihat maka Kol. Sudirman di daulat menjadi Panglima Besar TKR dan oleh Bung Karno dilantiknya pada 18 Desember 1945 dengan pangkat Jenderal sebagai Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia. Dan Letjen Oerip Soemohardjo sebagai Kepala Staf.

Pada 24 Januari 46 TKR menjadi TRI, selanjutnya pada 3 Juni 1946 terjadi penggabungan seluruh laskar dengan TRI menjadi TNI oleh Bung Karno.

Sementara sebelum itu, Jepang berhasil membersihkan Semarang dari kekuasaan Republik. Pada 20 Oktober 1945 tentara Sekutu tiba di Semarang dan mulai menuju Ambarawa dan Magelang untuk mengungsikan kaum interniran. Pertempuran kembali meletus dengan sengitnya yang membuat serdadu – serdadu Ghurka dari tentara Sekutu kewalahan. Dalam pertempuran di Magelang dan Ambarawapemimpin BKR Banyumas Kol. Sudirman, memegang peranan penting untuk memaksa Sekutu mundur. Pinpinan tentara Inggris di Jakarta meminta tolong kepada Presiden Soekarno guna menghentikan serangan pihak Indonesia. Maka pada 1 November 1945 Bung Karno bersama Amir Syarifuddin terbang ke Semarang kemudian pergi ke Magelang sehingga otomatis genjatan senjata pun tercapai.

Di Surabaya pun memiliki pola yang sama di bawah kendali Bung Tomo dan Tentara Sekutu yang diboncengi NIKA (Netherland Indies Civil Administration) mendarat pada 20 Oktober 1945. Bung Tomo dengan berkobar – kobar membakar api semangat perjuangan melalui corong Radio Pemberontakan. Tentara Sekutu memulai bergerak untuk menguasai kota Surabaya akan tetapi dilawan oleh Pemuda. Ternyata pertempuran di Surabaya pun tidak menguntungkan Sekutu. Brigade ke 49 Inggristerancam akan dimusnahkannya. Lagi – lagi Jenderal Hawthorn yang terjepit meminta pertolongan pada Presiden Soekarno agar diberhentikan penggempuran terhadap Brigade 49.

Bung Karno, Bung Hatta dan Amir Syarifuddin tiba di Surabaya pada 29 Oktober 1945 dan segera melakukan perundingan dengan pihak Inggris maka persetujuan pun tercapai dan Bung Karno CS segera kembali ke Jakarta. Tetapi saat berpatroli dengan Inggris – Indonesia berusaha menimbulkan ketertiban. Sayang entah siapa yang mulai tembak – menembak pun terjadi lagi dan tragisnya Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby tewas. Keadaan seketika memburuk dan Inggris segera memperkuat tentaranya di Surabaya. Jenderal Mansergh memberikan ultimatum agar supaya Pemuda Indonesia segera menyerahkan senjatanya, yang disertai dengan ancaman. Tentu hal itu justru ditolaknya!. Merdeka atau mati!

Dalam detik – detik yang menegangkan itu Bung Tomo justru tak berada di Surabaya karena ia bersama Krisnabu pada 8 – 11 November 1945 menghadiri “Konggres Pemuda I” paska kemerdekaan di Balai Mataram kini gedung Seni Sono di Jl. Malioboro, Jogyakarta yang dibuka langsung oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Federasi dari seluruh organisasi pemuda dijadikan Badan Konggres Pemuda Republik Indonesai (BKPRI). Konggres tersebut demi mempersatukan dan membulatkan tekad sikap politik pemuda agar tetap mendukung Negara Proklamasi secara konsekwen dan konsisten. Banyak utusan Pemuda dari luar Jawa yang gagal mengikuti konggres karena diblokade oleh Belanda. Dari Aceh terpaksa diwakili pemudanya yang bermukin di Jakarta yakni Syarif Thayib & M. Hasan Gayo, serta Arifin Tamiang. Dari Sumbar berhasil sampai Jakarta yakni Wiber Barmawi. Pada tanggal 10 November terdengar siaran radio bahwa Surabaya jam 0600 pagi, dibombardir oleh Sekutu baik dari udara, laut dan darat. Maka wakil dari Surabaya Krisnabu yang kebetulan sebagai Pemimpin Sidang marah luar biasa demikian pula Bung Tomo maka sebelum meninggalkan Jogya pekik merdeka dan semboyan hancurkan Inggris, hidup atau mati menggema dan menjalar ke seluruh urat syaraf para peserta sidang. Kemudian pimpinan sidang diserahkan kepada Ibnu Parna, pemuda AMRISemarang. Maka suasana sidang menjadi kacau tak dapat dielakannya sekalipun ia telah berusaha semaksimal mungkin.

Toh dengan perhatian yang terpecah pada 11 November 1945 terbentuklah “Pemuda Sosialis Indonesia” (PESINDO) maka leburlah API ke dalamnya. Setibanya kembali di Surabaya Bung Tomo tak kalah garang menyerukan kepada arek – arek Surabaya supaya bangkit melawan musuh!. Pertempuran berdarah – darah di Surabaya memperlihatkan semangat juang yang heroik bagi arek – arek Surabaya tak kurang 16.000 orang gugur menjadi syuhada. Sekalipun bersenjatakan apa adanya arek – arek Surabaya tak menyurutkan nyalinya menghadapi persenjataan mutakhir Sekutu. Merdeka atau mati menjadi semboyan para pejuang guna membela negara yang amat mereka cintai. Oleh sebab itulah mengapa tanggal 10 November diperingati sebagai “Hari Pahlawan”.

Provokasi dan intimidasi pihak Belanda meraja lela & mengancam keselamatan NPKRI sehingga Bung Karno & Bung Hatta terpaksa hijrah ke kota Jogyakarta pada 4 Januari 1946.

Pada 20 November 1946 Letkol Ngurahrai, Danrem Sunda Kecil gugur beserta pasukannya di desa Marga, mereka memiliki prinsip lebih baik mati berkalang tanah dari pada tunduk di telapak kaki Belanda. Demikian pula di tempat – tempat lain jiwa kepahlawanan tersemai kendatipun pengkhianat terhadap Negara pun subur jua adanya. Untuk melukiskan bela negara telah kita sajijan pada bahasan terdahulu bahwa seorang Belanda yang anti Indonesia melukiskan bila trend pertempuran seperti di Surabaya itu maka akan tenggelam oleh lautan darah.

Maka perundingan demi perundingan akal licik Belanda yang menjalankan politik devide at impera dengan selalu melakukan deviasi atas perjanjian yang telah disepakatinya.

Sehingga setelah perjanjian Linggar Jati yang ditandatangani pada 25 Maret 1947, yang terdiri dari 17 pasal. Bung Karno menyatakan bahwa : “Naskah Linggarjati ! Belanda menandatangani naskah itu. Ia menandatangani dengan penanya. Tetapi ia tidak menandatangani itu dengan hatinya”.

1. Perang Kemerdekaan Pertama, 21 Juli 1947

Seiring penghentian tembak – menembak dan ditandatanganinya perjanjian Linggar Jati, maka telah melapangkan jalan adanya timbang terima antara Inggris dengan Belanda, sehingga tentara Inggris ditarik pada akhir November 1946 dari Indonesia. Praktis Belanda bersimaharaja lela dan mendaratkan pasukannya di Jawa & Madura , seluruh Divisi India XXIII dipusatkan di Bandung, tentara Belanda begitu leluasa masuk ke Indonesia. Bagi Belanda itu suatu keharusan karena seperempat kekayaan Belanda tertanam di Indonesia maka mereka berkeyakinan bila kehilangan Hindia Belandanya berarti melahirkan mala petaka baginya (Indie verlorem ramps poed geboven). Karena Curasao dan Suriname sebagai koloninya tidak ada apa – apanya bila dibandingkan dengan Indonesia.

Kemudian terjadilah puncak aksi polisionil atau tepatnya Agresi Militer I pada 21 Juli 1947. Seluruh persenjataan baik senjata laras panjang, meriam, mitrailleur dan bom dimuntahkan kepada rakyat Indonesia. Belanda memulai serangannya dari Jakarta, Bogor & Bandung, terus bergerak ke seluruh daerah Jawa Barat dengan Divisi C/7. Divisi B bergerak dari Bandung ke Cirebon, Semarang, Tegal, Purwakerto dan Cilacap di Jawa Tengah. Di Jawa Timur serangan dimulai dari Surabaya dengan mengerahkan Divisi A yang merupakan gabungan dari Brigade Marinir. Selain itu mereka juga melakukan operasi Amphibi di Semenanjung Jawa Timur. Hampir seluruh kota di Jawa diserang dan ditembaki dari udara. Untuk menyerang Sumatera, Belanda mengerahkan 3 brigade . Serangan dimulai dari Medan dan seterusnya seluruh Sumatera Timur dengan brigade Z. Guna merebut Padang dan sekitarnya digerakkan brigade U sementara brigade Y menduduki Palembang, Bengkulu dan Jambi.

Ratusan ribu pejuang dan rakyat Indonesia gugur demi mempertahankan dignity negara Proklamasinya sekalipun dengan persenjataan bambu runcing dan pesenjataan ala kadarnya tidaklah menyurutkan semangat juang, semangat bela negara anak – anak Republik Indonesia. Oleh sebab itu muncullah kemudian “Perjanjian Renville”(nama kapal perang AS, yang merapat di Tanjung Priok) yang diadakan pada 12 Desember 1947 dan ditandatangani pada 17 & 19 Januari 1948 oleh PM.Amir Syarifuddin. Dimana dokumen I, berisi tentang genjatan perang (cease fire), yaitu dokumen “trust agreement”. Dokumen II, berisi dokumen – dokumen yang berupa dasar – dasar untuk mencapai tujuan politik yang dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok I berisi 12 pasal usulan Belanda dan sebagian isi perjanjian Linggarjati. Kelompok II, berisi 6 pasal sebagai tambahan yang dikenal dengan “The six additional principles”, dari Komisi Tiga Negara. Pasal 1 nya berisi bahwa : “Kedaulatan Belanda atas Hindia Belanda tetap di tangan Belanda sebelum diserahkan kelak ke Negara Indonesia Serikat”.

Namun tak ayal menuai konflik karena sebagian besar elit partai politik menolaknya sebaliknya Belanda juga mengultimatum pemerintah agar segera membentuk negara RIS.

2. Perang Kemerdekaan ke Dua, 19 Desember 1948

Upaya operasi – operasi territorial dan justisionil belum sempat dilakukan atas pemberontakan PKI Madiun akibatnya banyak pemimpin dan kader – kader PKI yang lolos yang kelaknya melakukan petualangannya kembali. Toh telah menyusul pula Agresi Milier II.

Pemerintahan segera membentuk Kabinet Hatta II pada 14 Agustus 1948 yang berakhir pada 20 Desember 1949.

Di sisi lain Belanda mengabaikan peringatan Republik bahkan pada 11 Desember 1948 dengan resmi Pemerintahan Belanda memutuskan perundingan sama sekali. Usaha Komisi Jasa baik (Australia – Belgia & Amerika Serikat) gagal total. Dan pada 17 Desember 1948 Belanda mengirimkan nota yang hanya memberikan waktu 24 jam, praktis suasana menjadi begitu g

enting. Sementara saluran telepone pun diputusnya semua dan semua rahasia republik telah berhasil disadapnya termasuk rencana latihan perang pada 19 Desember tersebut. Namun pada 18 Desember masih menerima telegram dari Jakarta, yang menyatakan pada 19 Desember 1948 Consul Jenderal Inggris akan datang ke Jogya, untuk melakukan usaha terakhir guna mengelakkan bencana perang.

Namun karena Belanda menganggap kita tidak dapat mematuhi keinginan dan dead line mereka, bukannya pesawat membawa Konsul Jenderal Inggris tersebut justru lagi – lagi aksi polisionil atau Agresi Militer II digelar pada 19 Desember 1948, pesawat – pesawat pembom Belanda meraung – raung di atas kota Jogya. Belanda mengerahkan kekuatan militer tak kurang dari 140.000 orang termasuk 63.000 tentara KNIL (Koninklijk Nedherlansch Indische Leger). Lanud Maguwo dibombardir demikian pula kota Jogyakarta. Kota Jogya banjir darah, ratuan orang tewas, begitu kejinya Belanda. Belanda yang licik, memanfaatkan masa reses pejabat Dewan Keamanan PBB, karena mereka akan menjalankan liburan Natal, dengan harapan saat sidang mendatang Januari 1949 Republik Indonesia sudah tiada. Disamping Jogyakarta di Sumatera Utara Pasukan Belanda mendarat pada 23 Desember 1948 di sekitar Balige vis Danau Toba dengan menjatuhkan airborn di Lanud Siborang – Borang terus merangsek dan menduduki Sibolga.

Kontan adanya agresi tersebut para pejabat Anggota DK PBB, membatalkan liburannya dan pada 22 Desember 1948 mulai bersidang kembali di Paris dan pada 24 Desember 1948 DK PBB menyerukan diberhentikannya permusuhan dan supaya ke dua belah pihak memulai jalan damai kembali”. Dalam sidang tersebut pihak Belanda tak ubahnya sebagai pesakitan karena tidak saja anggota DK PBB bahkan wakil – wakil perutusan negara – negara Asia pun menyudutkan Belanda . Menurut Dr. J. G de Beus, salah seorang wakil Belanda, dalam bukunya “Morgen bij het aanbreken van de dag”, semua negara – negara itu bersikap seperti penuntut umum dan sekaligus hakim dalam sidang mahkahmah yang sedang mengadili Belanda. Serangan Belanda terhadap Jogya dengan mempergunakan tentara payung disamakan dengan penyerangan Jerman terhadap ibu kota Den Haag pada bulan Mei 1940”.

Bung Karno & Bung Hatta CS sebelum ditangkap oleh Belanda dan kemudian diasingkan ke Prapat dan selanjutnya ke Bangka, Sumatera, masih sempat memimpin rapat dan dengan piawai Bung Karno telah memberi amanat kepada Menteri Kemakmuran Mr. Syafrudin Prawiranegara dalam kabinet Hatta yang sedang berada di Bukittinggi guna membentuk "Pemerintahan Darurat Republik Indonesia" (PDRI). Sebagai solusi ke dua, bila itu pun gagal maka Bung Karno juga memerintahkan kepada Soedarsono (wakil RI di New Delhi) dan L. N. Palar (wakil RI di PBB) serta A. A Maramis yang sedang berada di New Delhi untuk melaksanakan "exile government RI" di India (Pemerintahan Pengasingan).

Pembenaran apapun yang dilakukan oleh Belanda, Bung Karno menyanggahnya atas alasan Belanda, bahwa : “……. Ya, kami mengetahui adanya berbagai pemberontakan di Jawa Barat, ‘The West is becoming the Wild West’, itu kami mengetahui. Belanda mengatakan , ini pula akibat dari infiltrasi Republik. Tetapi tidakkah lebih benar kalau dikatakan bahwa itu semuanya terjadi karena penindasan oleh Belanda ?. Karena berlaku disana depotisme, karena bersimaharajalela disana barbarisme ; karena mengamuk disana teror ? Disana tidak ada kebebasan politik, sebaliknya disana ada intimidasi, dus depotisme. Disana di desa dan kapung – kampung dibakar dan dibom dus barbarisme. Disana ribuan orang tak bersalah dibinasakan oleh Westerling & semacamnya, dus teror! Disana bercakrawati kekerasan, bruut geweld. Kekerasan zonder keadilan adalah depotisme. Kekerasan zonder peri kemanusiaan adalah barbarisme. Kekerasan zonder maksud lain melainkan untuk membuat orang menjadi takut adalah teror. Dan kekerasan untuk kekerasan adalah facisme. Di Pasundan adalah berjalan metode – metode fasisme, dus rakyatnya berontak” (Pidato Bung Karno, 17 Agustus 1948, Dibawah Bendera Revolusi Jilid II hal.68).

Jawa Barat memang memiliki semangat juang yang tinggi sehingga terjadi berbagai pemberontakan terhadap Jepang maupun Belanda seperti di Singaparna, Indramayu, Cimahi dan lain sebagainya.

Pada 22 Desember 1948, Bung Karno dan Bung Hatta, Kastaf A. U. S. Suryadharma, Mr. Asaad, Mr. A. Pringgodigdo, H. A. Salim, Mr. Ali Sastroamijoyo dan Sutan Syahrir, sebelum diangkut oleh pesawat tempur bomber B 25 Belanda di Maguo,

Ternyata Republik masih eksis & sanggup mengadakan perlawanan militer. Sehinggaperundingan Roem – van Royen terpaksa digelar pada 7 Mei 1949 yang berisi antara lain :

1. Tentara Belanda akan ditarik dari Jogya dan Jogya akan diserahkan kembali kepada Republik Indonesia serta para pemimpin Republik akan segera dikembalikan ke Jogya.

2. Akan dinyatakan adanya case fire, penghentian tembak – menembak di kedua belah pihak

3. Akan diadakannya KMB, antara Belanda, RI dan negara - negara federal, guna penyerahan kedaulatan & Pembentukan Uni Belanda – Indonesia.

Maka TNI kembali masuk ke ibu kota negara pada 24 Juni 1949 dan Bung Karno dan Bung Hatta CS pada 6 Juli 1949 serta Pak Dirman dkk, kembali ke ibu kota baru pada 24 Juli 1949.

Dan eloknya penyerahan kedaulatan dari tangan Belanda, pada 27 Desember 1949 ke RIS yang diwakili oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Secara historisi moyangnya Sultan Agung (abad XVII) dan Pangeran Dipo Negoro (abad XIX) telah berjuang mengusir Belanda namun baru era Sultan HB IX lah (abad XX) upaya tersebut tiga abad baru dapat berhasil dengan gemilang.

Pada 30 Desember 1949 Menteri Penerangan Arnold Monohutu mengumumkan nama "Batavia" menjadi "Jakarta".

Bung Karno sebagai Presiden , dengan menggunakan UUD RIS, sementara negara bagian Republik Indonesia, Presidennya dijabat oleh Mr. Asaad yang tetap menggunakan UUD 1945 dimana UU Pelaksanaannya dengan UU No. 22/1949.

Namun sebagaimana tuntutan adi kodratinya, & amanat Negara Proklamasi, setelah lima tahun negara yang dicabik – cabik oleh Belanda ini akhirnya bangkit kembali rasa kesatuan & persatuannya sehingga dari Malang yang segera ingin bergabung kembali dengan R. I yang kemudian segera diikuti oleh Sukabumi dan lain – lain akhirnya pada 9 Maret 1950 Negara - Negara bagian dan daerah yakni : Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Padang, Sabang, Pasundan dikembalikan resmi dibawah panji – panjinya Republik, disusul pada tanggal 24 Maret oleh Jakarta, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur.Menyusul pada 4 April 1950 oleh Banjar, Dayak Besar, Kalimantan Tenggara, Kotawaringin, Bangka, Belitung dan Riau. Maka per 5 April 1950 tinggal 3 daerah yang belum bergabung yakni Republik sendiri dan Indonesia Timur serta Sumatera Timur. Maka dengan adanya kegigihan serta upaya mempersatukan Republik Indonesia, amanat Proklamasi itu kembali dapat direngkuh dan dipertahankannya. Akhirnya terbentuklah kembali “Negara Kesatuan Republik Indonesia” pada 17 Agustus 1950, sehingga NRIS hanyalah sebuah bayang – bayang Pemerintahan Belanda yang hanya berumur tak lebih dari 7.5 bulan dan rakyat Indonesia begitu cintanya terhadap Negara Proklamasi Kesatuan Republik Indonesia.

Sebaliknya selama kurun waktu tersebut Kabinet Hatta telah menelorkan : 36 undang – undang darurat; 24 Peraturan Pemerintah; dan Penpres sebanyak 395 buah dan dewan sidang menteri telah diselenggarakan sebanyak 45 kali. Nah bagaimana dengan DPR dan Pemerintahan reformasi dan atau transisional saat ini ?.

4. Negara Kesatuan Republik Indonesia, 17 Agustus 1950

Usai penyerahan kedaulatan tersebut, maka pada 17 Agustus 1950 terbentuklah kembali suatu negara republik yakni Negara “Republik Kesatuan Indonesia”, karena RIS tak lagi sesuai dengan amanat Negara Proklamasi maka semua Negara Bagian RIS (16 negara) membubarkan diri, termasuk Republik Indonesia yang dilahirkan dalam rahimnya revolusi.

Akibat Belanda kehabisan akal dan harus enyah dari bumi Nusantara maka tentara KNIL dibubarkan pada 26 Juli 1950, yang menyisakan banyak persoalan (termasuk RMS) karena Belanda tidak memenuhi perjanjian yang telah disepakatinya bahkan sebenarnya Belanda masih akan menggelar Agresi Militer III namun diurungkan.

Atas kenyataan tuntutan sejarah tersebut Dwitunggal Soekarno – Hatta menerima kembali mandat yang diemban Mr. Asaad dan menjadi Presiden dan Wakil Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan mencabut UUD RIS dan digantikan dengan UUDS yang liberalistic Kabinet RIS segera digantikan oleh Kabinet R. I Kesatuan I di bawah M. Natsir terbentuk pada 6 September 1950 yang hanya berlangsung selama 6 bulan, hingga 27 Mei 1951. Segera digantikan oleh Kabinet Sukiman, Kabinet R. I Kesatuan II dari 27 April 1951 hingga 3 April 1952. Krisis kabinet dan parlemen saling susul – menyusul, maka pada 3 April 1952 terbentuklah Kabinet Wilopo yang merupakan Kabinet R. I. Kesatuan III hingga 30 Juli 1953. Kemudian Kabinet Ali Wongso yang masih menggunakan Kabinet R. I. Kesatuan IV yang berumur lebih tiga tahun hingga 12 Agustus 1955. Dan digantikan oleh Kabinet Burhanudin Harahap mulai 12 Agustus 1955 hingga 3 Maret 1956.

Pada saat itulah Pemilu terdemokratis selama NKRI berdiri digelar yakni Pemilu untuk Legislatif pada 29 September 1955 dan Pemilu untuk Konstituante pada 15 Desember 1955.

Kabinet jatuh bangun maka segera dibentuk Kabinet Ali Sastro II pun terbentuk pada 24 Maret 1956 sampai dengan 1957. Dan dicoba Kabinet non partai yang dinamakan Kabinet Karya di bawah PM. Ir. Juanda dari 9 April 1957 hingga 10 Juli 1959. Selama Sembilan tahun tak kurang dari 17 kali krisis Kabinet. Oleh sebab itu guna menyelamatkan Negara Proklamasi atas masukan dari Jenderal A. H. Nasution, Bung Karno terpaksa mengeluarkan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959 untuk kembali kepada UUD 1945.

Maka terbentuklan Kabinet Inti dari 10 Juli 1959 sayang hanya berumur sampai 18 Februari 1960. Resufle Kabinet sebuah keniscayaan maka terbentuklah Kabinet Inti II dari 18 Februari 1960 hingga 6 Maret 1963. Selanjutnya terbentuk Kabinet Karya III dari 13 November 1963 hingga 27 Agustus 1964 dan Kabinet Dwikora dari 27 Agustus 1964 hingga 21 Februari 1966.




Kamis, 26 Agustus 2010

MENGINTIP SEMIOBUWNA LOKA GEMPA NAD & DIJ

Setelah peristiwa (umum menamakannya Langit Terbelah) “LANGIT KELABU” yang menyembul di atas Kota Jogyakarta pada 11 Juni 2010 menjelang mahrib tiba, ternyata Jogya kembali digoyang gempa pada 23 Agustus 2010 (13 Ramadan 1943 SJ) hari Senin Pon (hari pasaran lahirnya nabi Muhammad) jam 18.41 dengan posisi 8.03 LS dan 110.39 BT berkekuatan 5,0 SR. yang merusak bangunan Kencono, BangsaL Tepas Kawedanan Ageng Punokawan dan Bangsal Sarang Soyo, kraton Ngayogyakarto Hadiningrat. Menyusul bangunan Traju Mas yang roboh pada gempa dahsyat 27 Mei 2006 lalu. Dan hanya 6 jam 1 menit sebelumnya Sinabang NAD gempa mendahuluinya dengan kekuatan 5,8 SR.

Seiring berbagai isu tentang keajaiban alam termasuk muncratnya puluhan meter luapan baru. Lapindo di salah satu rumah penduduk di Sidoarjo; adanya 8 kali ledakan di trotoar Jl. Raya Cikini (sehingga mengingatkan kejadian penggranatan terhadap diri Bung Karno di perguruan Cikini), juga adanya terror gas di Koja, Jakut yang merenggut 2 korban jiwa serta adanya panorama gletser darah yang muncul lagi di Mc. Murdo Dray Valleys di wilayah maha luas tanpa es di benua Antartika, di kutup selatan (yg disimpulkan sebagai pengoksidasian zat besi) dan hujan darah di India pada 23 Agustus 2010 serta runtuhnya gunung es di kutub utara; maraknya perampokan bersenjata dan centang perenang kasus tukar guling 3 pejabat negara dengan 7 orang maling ikan negeri Jiran, dan seribu satu lainnya.

Nah tentang gempa, ada kaitan apa yang kedua – duanya berstartus “ISTIMEWA”,!. Bila di NAD, yang bekas kerajaan Islam pertama di Nusantara yakni Samudera Pasai yang berdiri tahun 1297 M di pesisir Timur Laut Aceh, Lhokseumawe, rajanya bernama Merah Silu atau bergelar Sultan Al – Malik Ash Shaleh yang menikah dengan putri raja Perlak (Ferlec) kerajaan Islam di Sumatera bagian Utara. Itu tentulah erat kaitannya dengan “AGAMA ISLAM” sehingga disebut sebagai SERAMBI MEKAH”, sedangkan DIJ erat kaitannya dengan PUSAT BUDAYA – PUSAT PERADABAN BANGSA” yang kemudian sebagaian masyarakat berupaya keras menjadikannya sebagai ‘SERAMBI MADINAH yang praktis akan menggusur adat – istiadat, tradisi luhur, dari pusat peradaban bangsa tersebut sehingga semakin tercerabut lah akar – akar budaya bangsa ini. Pernah di kecamatan Dlingo, Bantul seorang camat melarang warganya melakukan acara adat “Bersih Desa” dll. Nah apakah masyarakat Jogya rela atas pergantian status dan perubahan tata nilai tersebut ?.

Nampaknya berbagai gempa di daerah tsb. bisa jadi semuanya memiliki pesan spiritual yang sarat dengan tanda tanya (?) bukan tanda ! (seru). Seperti konsistenkah – sudah benarkah – sudah tepatkah penghayatan atas kedua status tersebut yang satu membawa nama Islam & yang lain mengemban misi budaya/peradaban suatu bangsa ?.



BAGIAN I, MENGINTIP SEMIO BUWANA LOKA.

Ref. QS : Azzalzalah :

  • Ayat 2 dinyatakan : “Dan bila bumi itu telah memuntahkan segala isi perutnya”.
  • Ayat 3 berikutnya menyatakan : “Manusia bertanya – tanya ‘apa yang terjadi dengan bumi ini ?”,
  • Ayat 4nya menyatakan : “Ketika itulah bumi menceritakan kabar beritanya.


A. SUATU MISTERI PERGOLAKAN ALAM

1. ERAT KAITANNYA DENGAN PERAYAAN UMAT CHRISTIANI

Semenjak bencana tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada hariMinggu pagi 26 Desember 2004 yang masih dalam suasana peringatan Hari Natal, ternyata setelah diamati selama enam tahun berturut – turut setiap datang peringatan hari besar keagamaan kaum Kristiani senantiasa diikuti oleh bencana alam dahsyat. Sebagai bahan renungan – kajian dan penghayatan pertobatan yang sungguh – sungguh (tobatan nasuha) berikut fakta – peristiwa alam dan non alam yang terjadi antara lain seperti :

  1. 28 Maret 2005, hari Minggu Pon, Selang dua hari peringatan wafatnya Isa Almasih terjadi gempa bumi di Nias dengan korban jiwa dan harta benda yang tidak sedikit.
  2. 27 Mei 2006, hari Saptu Wage, selang dua hari peringatan Kebangkitan Yesus Kristus di Daerah Istimewa Jogyakarta dan Jawa Tengah, gempa bumi memporak perandakan Jogya dan Jawa Tengah dan menewaskan ribuan jiwa manusia.
  3. Dan selang empat hari Paskah Agung terebut pada 29 Mei 2006, luapan Lumpur panas Lapindo pun memuntahkan segala isi perut bumi yang hingga kini masih saja terus kurda dan tragisnya korban Lumpur pun menjadi bulan – bulanan yang tak tahu nasibnya lagi. MA telah menjatuhkan amar putusannya bahwa luapan lumpur tersebut bukan karena human eror melainkan merupakan bencana alam. Nah pertimbangannya apa ? sedangkan pakar di bidangnya Dr. Rubiyanto dari ITB tidak pernah sekalipun didengar pendapatnya ?
  4. 7 April 2007, keesokan harinya, Saptu Wage setelah peringatan Paskah Agung terjadi gempa bumi di Manggarai Barat sehari dua kali berkekuatan 5.2SR. DIJ, kembali diserang angin puting beliung di desa Wonokromo, Plered, Bantul. Kereta Api Tawang Jaya jurusan Semarang – Jakarta terguling di Tegal, menewaskan 2 orang. Dan pada hari berikutnya Minggu Kliwon, 8 April 2007 DIJ puting beliung masih menghantam Prambanan. DKI jalan – jalan raya kebanjiran dan pohon – pohon besar bertumbangan.
  5. 18 Mei 2007, sehari setelah kebangkitan Yesus Kristus, kejadian misterius yakni gelombang raksasa menyerbu sepanjang pantai NAD hingga NTB yang tanpa penyebab sama sekali dan anehnya penanda peringatan dini yang telah dipasang, sama sekali tidak berfungsi. Dan bila disimak kalender Saka Jawa, adalah 1 Jumadilawal 1940 persis setahunnya gempa bumi Jateng & DIJ yang kita namakan “Sijumlunga” secara harfiah singkatan dari (tanggal) Siji Jumadilawal Telu Sanga (1 Jumadilawal 1939SJ). Aneh alam pun memeperingati kejadian setahun yang lalu. Secara filosofis, mungkin bermakna si jumbuhing lahir & batin, warangka manjing curiga – curiga manjing warangka, manuggaling kawula lan gustine atau mikrokosmos dengan makrokosmos, in sensu stricto – in sensu abstracto itu telah raib dari kehidupan kita sehari – hari.

Dan saat peringatan setahun penanggalan Masehi atas peristiwa tersebut, 27 Mei 2007, lagi – lagi saat Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin sedang berpidato, gempa Jogya kembali menggoyangnya. Ada apa gerangan ini ?

  1. Masih diulang lagi 26 Desember 2007, sehari paska peringatan Natal, Karang Anyar, Jawa Tengah prahara tanah longsor dan masih diikuti oleh bedahnya tanggul Bengawan Solo sehingga beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur bahkan termasuk Ngawi dan Ponorogo bagai samudera raya. Semuanya telah menewaskan lebih dari 69 orang.
  2. 17 Mei 2008, Kamis Pahing, saat memperingati Kebangkitan Yesus Kristus terjadi berbagai kecelakaan moda transportasi. Honda Jazz terjun bebas dari ITC Permata Hijau, sekeluarga suami isteri dan putraya menjadi korban. Sebuah truk tercebur di pelabuhan Merak, Banten. Juga kecelakaan di jalan tol Jakarta – Bandung. Gelombang besar menghantam pesisir DIJ dan pada 18 Mei 2007, Jumat Pon, meluas dari Aceh sampai ke Nusa Tenggara Barat. Konon ketinggian terbesar sampai 15M terjadi di DIJ. Juga kebakaran pasar di Boyolali dan Samarinda.
  3. 26 Desember 2008, sehari setelah Peringatan Natal, Gunung Semeru kembali memuntahkan debu.
  4. 27 Maret 2009, empat tahun persis peristiwa gempa dahsyat di Nias 28 Maret 2005 masih dalam peringatan wafatnya Isa Alamasih, tiba – tiba “Situ Gintung pun jebol” dan memakan korban jiwa setidaknya 100 orang belum lagi 70an yang belum diketemukannya. Harta benda & nyawa tak dapat terselamatkannya, karena kejadiannya masih pagi buta.

Dalam keyakinan umat Christiani, Yesus Kristus adalah Sang Juru Selamat, bisa jadi semua tadi memiliki pesan spiritual agar bangsa dan Negara ini seharusnya segera diselamatkannya dari jurang kehancuran. Sebagai bangsa yang (dulunya) ramah & religius serta berperiadaban yang tinggi, nampaknya itu tinggalah sejarah belaka. Benar pula pendapat Yasraf Amir Piliang, bahwa kita telah berada pada suatu keadaaan “ketiada pastian moral” (indenterminancy of morale), pada satu garis abu – abu moral, atau pada satu titik ambiguitas moral.



2. PATRON ANGKA 11 (WAFATNYA NABI MUHAMMAD, DAN 22, TURUNNYA WAHYU)’

Hampir peristiwa besar negeri ini maupun global nyaris menyiratkan angka 11 yakni menunjukkan yahun wafatnya nabi Muhammad SAW pada tahun 11 Hijriah dan 22 lambang turunnya wahyu yang beliau terima selama 22 tahun 2 bulan & 22 hari. Contoh sebagian kecil saja yakni antara lain seperti :

  1. Tsunamai di NAD : 26 (8) Desember (12 = 3). 8 + 3 = 11
  2. GEMPA 10 NOVEMBER 2009 JAM 09:48 WIB 6 SR (HARI PAHLAWAN)Bumi Serambi Mekkah kembali diguncang gempa pada Selasa (10/11) pukul 09.48 WIB. Gempa berkekuatan 6 Skala Richter (SR). Note : WAKTU : 10 NOV. 2009 = 10 + 11 + 11 = 32 = (5). JAM : 09.48 = 9+ 4 + 8 = 21 (3). Posisi : 7.91 LU - 9.48 BT = 7 + 9+ 1 + 9 + 4 + 8 = 37 = 11 = (2) Kedalaman : 10 Km di bawah permukaan laut = (1) Jadi = 5 + 3 + 2 + 1 = 11
  3. GEMPA: 07 APRIL 2010 JAM 05.25 Gempa berkekuatan sekitar 7,2 SR mengguncang provinsi Nanggroe Aceh Darusaalam. Gempa yang berpusat di 75 km Tenggara Sinabang atau 85 Km Barat Laut Singkilbaru, NAD. Gempa juga terasa di Kota Medan. Di Banda Aceh, Nias, Sibolga dan beberapa daerah lainnya goyangan juga terasa. Note : 7 April = 7 + 4 = 11.
  4. GEMPA NAD (23 Agustus 2010) jam 12:42 berkekuatan 5.8 SR = 12.42 (3 + 6 = 9) dan 5.8 ( 5 + 8 = 13). Jadi = 9 + 13 = 22
  5. GEMPA JOGYA (23 Agustus 2010) posisi 8.03 LS = 8 + 3 = 11
  6. Langit terbelah di Jogyakarta tanggal 11 (Juni) yang tak perlu dirangkainya lagi.
  7. Meteor jatuh di Jakarta pada 11 Maret 2009. Kembali angka = 11 dstnya.

BAGIAN II. MISTERI SIJUMLUNGA & GEMPA NAD

A.MAKNA BAGI MASYARAKAT DIJ

Kita dibuat terbelalak dan tersentak oleh fenomena Mbah Maridjan, Sang juru kunci Gunung Merapi, yang merupakan ikon kebangkitan kearifan budaya lokal. Setelah pimpinan dan sebagian besar masyarakat DIJ/Jateng merubah adat dan tradisi menghormati sesama mahkluk Tuhan dengan berbagai macam ritual seperti bersih desa, sedekah bumi, sedekah laut, memboyong Dewi Sri dan labuhan serta semacamnya yang dianggap kontra produktif, tidak Islami, musrik dan sebagainya. Akibatnya human being - menjadi manusia yang kehilangan : rasa pangrasa, kasih sayang, tali – kasih, silaturahim, penghargaan terhadap jasa sesama mahkluk Tuhan. Kering rohani sampai – sampai kasih sayang terhadap sanak saudara sendiri bahkan antar anak dan orang tua pun sering raib dari kehidupan kita sehari – hari.

Mengapa Mbah Maridjan yang nota bene abdi dalem kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Ngb. Suraksa Hargo, naik daun dan menjadi ikon ? Karena “ketulusannya bersahabat dengan alam khususnya Gunung Mrapi”. Dia tidak peduli kata orang dicap sebagai orang musrik – sirik dan sok, ia bergeming, ia abaikan semua suara sumbang itu karena begitu eratnya hubungan batin dengan bumi yang dipijaknya yang terpenting dengan cara memayu hayuning bawana atas doa dan laku mampu mendayai masyarakat Merapi dan Jogya yang terancam letusan gunung yang sedang kurda dan mengamuk. Dan sekalipun setelah dia mashyur – terkenal, dia (masih) terpedaya dengan gemerlapnya dunia media layar kaca yang mengantarkan menjadi selebritis iklan Extra JOOS ! , toh hasilnya dia manfaatkan demi kemajuan lingkungannya dan bahkan disumbangkannya ke berbagai daerah untuk pembangunan masjid dan lain – lain. Bandingkan dengan diri kita yang hanya dapat menghujat dan atau memberinya stigma miring dan merendahkan daya upayanya? Ironis, untuk menjaga keselamatan kita sendiri dan keluarga saja belum tentu kita bisa ? Apa lagi memberi manfaat kepada orang lain ?. Nah Mbah Maridjan dengan keluguannya, kepolosannya, ketulusannya dan loyalitasnya pada junjungannya (HB IX) dan alam serta dengan segala kekurangannya telah mampu mendayai dan memberikan sumbangsih terhadap keselamatan sesama dan lingkungannya. Dan di Nusantara ini masih ada Mbah Marijan – Maridjan lain sungguhpun tidak sepopuler dengannya. Akankah tetap kita kucilkan dan cela dharma bhaktinya itu ?

Maka tidaklah berlebihan bila Jogya yang pernah menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia, menjadi Daerah Istimewa karena kesejarahannya dan juga tak ketinggalan karena harta benda dan tahta NDIS. Sri Sultan Hamengku Buwono IX telah dipersembahkan bagi rakyat Indonesia (maka amat tepat autobiografinya diberi judul “Tahta Untuk Rakyat”). Apa lagi ketauladanannya dimana beliau tidaklah silau dengan jabatan sehingga saat daya dan upayanya untuk rakyat dirasa tidak lagi optimal secara politis dan spiritual beliau lebih senang mengundurkan diri dari jabatan “Wakil Presiden” Republik Indonesia pada 1978. Sehingga memungkinkan Ketua MPR Adam Malik menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Di Republik ini hanya punya dua ikon yakni Bung Hatta dan Sultan IX sendiri sehingga sampai akhir hayat tiada terdapat isu negative atas dirinya.

Sayangnya Keistimewaan DIY agak terabaikan setelah NAD diberikan suatu previlage amat istimewa (dari sisi nama saja sudah menunjukkan negara “Nanggroe” yakni Negara dalam negara belum lagi dengan PIAGAM JAKARTAnya), dibandingkan provinsi manapun, sehingga bangsa ini tersentak saat NDIS Hamengku Buwano X, mengumumkan bahwa beliau tidak lagi bersedia dijadikan gubernur pada 2008 sehingga Presiden terpaksa mengeluarkan Kepres mengenai perpanjangan masa jabatan Gubernur Sri Sultan HB X dan ironisnya RUUK DIJ hingga kini tak tau rimbanya. Quovadis. Apakah menunggu masyarakat Jogya dan Pemilik bumi Cendrawasih mengikuti langkah GAM agar mendapat tanah gratisan dan previlage yang luar biasa?. Jangan lah seglugit pinara sasra cara itu dimilikinya.

Banyak kawula Jogya yang mencintai HB X maka sangat menyayangkan kiprah Sri Sultan HB X, setelah pembatalannya mengikuti konvensi Golkar namun kemudian terprovokasi untuk menjadi Capres Indepencence yang akhirnya terpental dari orbit politik nasional karena kurang jelinya memetakan politik pertahanan, namun justru kini ikut atif dalam ormas “NASDEM” yang sejatinya beliau mampu memberikan andil yang lebih besar dengan berbagai kemampuan yang beliau miliki dengan cara beliau sendiri.

Sebagian kaum spiritualis berpendapat hendaknya apa yang telah beliau lakukan dengan puasa sebulan menyongsong datangnya era reformasi sehingga Jogya kembali menjadi barometer perjuangan dan pembaharu hendaknya kini semakin inten dilakukannya seperti yang dicontohkan PM. Gajah Mada, sehingga dalam keadaan keos bisa jadi alam akan meminjam jiwa raganya untuk menjaga kelestarian dan mempberdayakan NPKRI yang sudah bersendyakala ini. Provokasi dari inner cycle jangan lagi diperturutkannya. Alegoris robohnya Traju Mas dan rusaknya beberapa bangunan pada Senin Pon 23 Agustus lalu hendaknya menyadarkan atas “struggle revitalization” yang tantangannya semakin berat itu. Semoga beliau berkenan mendengarkan suara – suara gita alam.



B. MAKNA BAGI MASYARAKAT NAD.

Ada yang menggelitik, mengapa setelah Propinsi Aceh memperoleh previlage yang luar biasa dengan mengaplikasikan syareat Islam justru tsunami dan gempa bertubi – tubi menghantam NAD ?. Dengan Otonomi Khusus; sungguh menyedihkan sebagai Negara Kesatuan telah terdegradasi menjadi negara federalisme. NAD dengan UU No. 11/2006. DPRA telah merumuskan Qanum diantaranya adanya hukum rajam, dilempari batu hingga mati bagi orang yang kedapatan berzinah. Sungguhpun Gubernur Irwandi Yusuf menolak menandatanganinya, toh Bupati Aceh Barat, Ramli MS telah mengeluarkan peraturan yang melarang perempuan memakai celana panjang, dan akan mengerahkan polisi syariah (Wilayatul Hisbah) guna mengawasi di wilayah itu. Larangan toko – toko menjual jean & celana panjang pun diberlakukan. Dan bisa jadi oleh Depdagri qanun ini tidak dianulirnya, seperti kecenderungan menduanya sikap Pemerintah yang dilakukan selama ini.

Bagi GAM tentu tidaklah mengikat atas perjuangan para pendahulunya yang ikut membidani NPKRI sehingga masyarakat Aceh mampu menyumbangkan sebuah pesawat terbang ‘SEULAWAH” bagi pemerintah pusat yang hanya bermodalkan bendera Merah Putih dan semangat patriotisme itu saja dan didera rongrongan penjajah Belanda dan anak – anak bangsanya sendiri.

Bisa jadi bagi (istilah sekarang) rakyat NAD dianggapnya suatu kemenangan dengan diberlakukannya syareat Islam tsb. Sedangkan bila berkenan menggunakan barometer “rasa ing pangrasa” hal tersebut dicapai dengan nawaitu memisahkan diri dengan NPKRI sehingga muncullah GAM. Apapaun alasannya jelas ini mengkhianati komitmen para pendahulunya yang sepakat di dalam Sumpah Pemuda dan diaktualisasikan Ke dalam “PROKLAMASI” yang berdasarkan PANCASILA itu. Secara etimologis, Gerakan Aceh Merdeka adalah bentuk pengkhianatan terhadap NPKRI yang artinya musuh Negara. Memang hal tsb. sebagai bentuk atas kebijakan Pemerintah Pusat yang A – Pancasila dengan DOM yang memakan korban begitu banyak sebaliknya aparat ABRI (TNI) pun banyak pulayang menjadi martir. Namun anehnya oleh elit penyelenggara Negara justru persoalan intern dalam negeri diselesaikan dengan campur tangan internasional. Dengan internasionalisasi GAM, ia berada di atas angin. Sehingga agreement GAM dengan NPKRI ditandatangani di Helksinki pada 15 Agustus 2006. Alur piker yang bisa dikatakan “part pro toto – totem pro parte”, bagaimana mungkin “Pemberontak sama kedudukannya dengan NPKRI” ?. Dan karena ini adalah suatu perjanjian maka istilah itu tetaplah akan abadi. (Hal ini identik dengan ke tiga aparatur Negara yang sedang bertugas menangkap pencuri ikan di wilayah NPKRI namun justru ditangkap oleh polisi Malay dan akhirnya terjadilah barter antara pejabat Negara dengan pencuri ikan).

Langkah jitu (dan benar maksudnya) yang diambil MJK & atau SBY, namun tidaklah bijak dan bajik serta arif itu manakala kelak para elit NAD melanjutkan misi terselubungnya ingin merdeka maka anak – cucu akan menuntut para promotor perundingan tsb. Kita doakan semoga itu tidak terjadi dan memang nasi telah menjadi bubur, let bygone be bygone.

Nah dengan kepelopran NAD pemilik otonomi khusus yang mempelopori penggunaan syareat Islam akhirnya memberi cakrawala & inspirasi bagi propinsi – kabupaten – kota untuk ikut latah mengaplikasikan syareat Islam yang hingga kini tak kurang dari 6 propinsi, 38 kabupaten dan 12 kota. Juga di bumi Manukwari pun ikut langkahnya dengan “Syareat Kota Injili”. Negara Kesatuan telah terkoyak – koyak dengan ego para elit penguasa. Sedangkan Bung Karno telah mewasiatkannya : dalam pidatonya pada 17 Agustus 1957 “Amanat Pancasila”, beliau telah mensinyalir : “…… Aku sentrisme menonjolkan diri di segala lapangan. Dulu jiwa dihikmati oleh tekad ‘aku buat kita semua’, sekarang …’aku buat aku’. Aku buat aku! Aku, Aku, dalam arti perseorangan; aku golongan; aku partai; aku suku; aku daerah; aku ini menonjol – nonjol. Aku ini minta kedudukan, Aku ini minta penghargaan. Aku ini minta sekian kursi dalam parlemen, Aku ini minta pelayanan istimewa, Aku ini minta sebagian besar dari per – uangan Negara, Aku ini minta otonomi , status yang lebih tinggi”.QUOVADIS!

C. SERAMBI MEKAH & SERAMBI MEDINAH.

Sebagai Serambi Mekah yang disandangnya begitu lama bisa jadi kahir – akhir ini praktek keberagamaan di sana sekalipun mengetrapkan syareat Islam bisa jadi banyak penyimpangan dari kaidah Islami. Kita dibuat terhenyak saat polisi syareat menangkap sejoli yang sedang pacaran justru ceweknya diperkosanya sendiri oleh beberapa polisi yang menangkapnya.

Sebaliknya Jogya yang dijadikan ‘SERAMBI MADINAH”, bisa jadi tidak dipahami oleh masyarakat Jogya bahwa efek dari upaya tersebut otomatis akan melenyapkan pusat budaya, pusat peradaban yang dibingkai oleh bhinneka tunggal ika, e paribus unum, unity in flurifate, in sensu abstracto – in sensu stricto, jumbuhing kawula lawan Gustine!

Bisa jadi elit Muhammadiyah khususnya dan NU pada umumnya tidak merasa kecolongan termasuk SBY yang memiliki Majelis Dzikir yang cabang – cabangnya hamper di seluruh provinsi itu bahwa pengaruh Islam transnasional telah menggurita pada ke dua institusi tersebut termasuk pada legislative, eksekutif dan yudikatif.

JOGYA SEBAGAI SERAMBI MADINAH, secara spiritual nampaknya sudah terwujud seiring adanya muktamar Muhammadiyah bulan lalu yang diresmikan oleh bp SBY saat beliau melakukan umrah di kota Madinah. Mengapa SBY tidak memberikan mandate kepada Wapres Budiono sehingga tidak mengganggu ibadah beliau ? Dan juga elit Muhammadiyah mengapa seolah bila tidak dibuka oleh Presiden dirasanya kurang afdol ?.

Sedangkan upaya kedua institusi keagamaan tsb. cukup menggembirakan dengan terbitnya buku yang berjudul “Ilusi Negara Islam ekspansi gerakan islam transnasional di Indonesia”. Untuk menangkal maraknya paham Islam transnasional yang mengusung kekerasan – anarksime dalam memperjuangkan cita – citanya itu. Dan kedua institusi tsb. juga menempatkan mantan – mantan pentholan BIN dalam jajaran DPPnya agar mampu membendung infiltrasi paham disharmoni tsb., tapi toh bobol juga dan itu pun belumlah cukup guna menghadapi kepiawaian mereka.

KESIMPULAN

Bila tahun lalu khususnya bulan Ramadan yg jatuh pada 22 Agustus 2009 dan lebaran, 1 Syawal pada 19 September 2009. Rentang 11 hari dari awal puasa terjadi “GEMPA TASIK” pada 2 Sept. 2009 dan 11 hari paska puasa terjadi pula “GEMPA PADANG” pada 30 Sept. 2009. Sebelumnya pada 11 Maret 2009 terjadi meteor jatuh yg sempat diabadikan oleh Endang Setyowati. Dan pada 11 Maret 2010 banyaknya kebakaran di Jakarta dll.

Kemudian Hari kebenaran (kata kesaktian mengandung makna ada pecundangnya) Pancasila 1 Oktober 2009, giliran Jambi yang digoyang gempa. Nah Ketiga peristiwa tersebut otomatis merubah wajah NPKRI dengan adanya peristiwa G30 S (yang PKInya tidak boleh dikorup oleh kejagung) dan Supersemar tersebut.

Nah pada Ramadan ini (2010) Jogya sebagai pusat budaya, yang (konon) tak lagi nguri – uri budaya yang telah diwariskan ratusan tahun silam dan NAD sebagai Serambi Mekah yang pada hari Senin Pon (kembali lagi naptunya 11) ke dua daerah istimewa tersebut digoyang gempa. Maka masih digenapi dengan simbulisme tahun Saka Jawa maupun Masehi dengan mencakranya seperti :

  1. 1. Surya sengkala, tahun 2007 “Ngulama Sirna Ilang ing Panembah“, (yang angka tahunnya harus dibaca terbalik) yakni “Ngulama (7) Sirna (0)Ilang (0) ing Panembah (2) = 2007. Bila para ulama dan atau para rohaniawan saja tak terikat lagi pada panembah, yang telah kehilangan kebaktiannya terhadap Sang Khaliq, bagaimana dengan para nadliyin atau jemaahnya ? Kemudian bagaimana nasib bangsa & negaranya ini kelak di tengah era jahiliah modern, era kali yuga atau jaman besi, jaman kegelapan, jaman kabut dan atau jaman kala bendu ini ?
  2. 2. Kemudian pada 2008 surya sengkalanya dapat dicandra sebagai “Kumara nir ilang ing panembah”. Nampaknya ini memperkuat para penjaga moral bangsa (para kyai, ulama dan atau rohaniawan) yang telah melalaikan pengabdiannya kepada Sang Kaliq karena tidak saja secara badani melainkan secara jiwani yakni “Sang Kumara atau Ruh pun tak lagi terikat oleh panembah kepada Tuhan Seru Sekalian Alam. TUHAN adalah Maha RUH, maka hanya dapat didekati dengan Ruh pula atau insun”.
  3. Pada angka tahun tertinggi yakni “2009” kembali menyiratkan surya sengkalayang ditandai dengan sengkalan Marga Ilang Sirnaning Panembah”.Setelah secara badani dan ruhani tak lagi terikat pada Tuhan Seru Sekalian Alam maka kini jalannya (marga) pun sudah tiada yang merupakan akumulasi atas hegomoni ”3T” tahta, harta dan wanita sebagaimana dinyatakan dalam ramalan RNg. Ronggo Warsito tersebut di atas.
  4. 4. Tahun 2010 M, surya sengkala berbunyi : ”Niring jalma ilanging panembah”.(Nyaris tiada lagi manusia yang melakukan panembah).

Dari surya sengkala tersebut saja sungguh amat sangat mengkhawatirkannya setidaknya jalan manembah pun sudah tertutup maka ruh dan jasmani tak lagi memiliki kebutuhan manembah sehingga dikatakan manungsa (manunggaling rasa) itu telah tiada kecuali hanya raga – raga tanpa jiwa tanpa nurani alias mayat – mayat hidup sahaja.

Tentang kearifan budaya lokal, seiring adanya leadership PM.Gajah Mada, Bung Karno sebagai Penggali PANCASILA juga mengingatkan : “Inilah nilai – nilai kesatriaan, nenek moyang kita, sementara kita masih dalam sikon yang mawas diri, ada baiknya kita janganlah terpengaruh dengan kebudayaan asing, yang berbau Eropa, Arab, Amerika, Jepang, India dan Israel. Kendatipun agamanya/ajarannya kita anut. Tetaplah kita harus melestarikan kebudayaan Nenek Moyang. Sebab kebudayaan adalah mencerminkan KEPRIBADIAN SUATU BANGSA. Kita adalah bangsa yang besar, tetapi untuk memelihara sesuatu nilai kebesaran tidak tumbuh seperti jamur, nilai yang BESAR haruslah kita gali, kita perjuangkan sampai menjadi akar dan watak yang hidup dalam diri kita”.


Oleh karena itu ‘GEMPA DAHSYAT JOGYA PADA 27 MEI 2006 = 1 JUMADILAWAL 19(39) SJ dapat disingkat “SIJUMLUNGA” yang memilki makna harfiah “SIJI JUMADILAWAL (TAHUN) TELU SANGA” dan makana filosofis “SIJUMBUHING KAWULA LAN GUSTINE WIS LUNGA”, yakni lahir dan batin sudah raib yang tersisa hanyalah insane - insane munafikun saja, bagaimana pejabat Negara (Jagung – Kapolri) dinilai oleh masyarakat telah melakukan kebohongan public atas kaset rekaman percakapan antara Ari Muladi dengan Adi Raharja seiring adanya kriminalisasi pimpinan KPK dan elit – elit para penyelenggara Negara lainnya. Cara fikir yang komprehensif – menyeluruh, yang tersurat dengan yang tersirat, makrokosmos – mikrokosmos, insensu abstracto – in sensu stricto sudah tak ada lagi, akal piker dijadikan senjata satu – satunya yang tak perlu diolah dan diseleksi dulu oleh kebijaksanaan qalbunya, sehingga outputnya jauh dari wise & wisdom.

Kemudian tergenapi dengan alegoris Lumpur panas : “LAPINDO” yang memiliki makna ‘LAKU – LAMPAH BANGSA & NEGARA PROKLAMASI KESATUANREPUBLIK INDONESIA INI TELAH DIPENUHI DENGAN LUMPUR DOSA”.

Nah dengan kejadian itu semua, TUHAN SERU SEKALIAN ALAM secara spiritual Yang Maha Rahman & Maha Rahim tentu tidaklah murka melainkan Birokratnya yakni Bumi & Langit yang tidak menerimakannya, karena mereka menjadi saksi atas diberkati dan dirahmatinya Negara Proklamasi Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan PANCASILA itu yang dianugerahkan 65 tahun yang lalu di bulan Ramadan yang penuh berkah itu. Identik apa yang sering dinyatakan masyarakat Jawa yang sedang didzolimi sering berujar “YA WIS TAK TERIMAAKE NING SING MOMONG AWAKKU SING NGGAK NRIMAAKE”! (QS : Ath – Thariq ayat 4).

Surveyor Geologi AS (USGS) yang menyatakan : "Sudah ada bencana alam yang paling bersejarah di dunia tercatat & terjadi dicincin api. Setelah tsunami di NAD pada 26 Desember 2004. Sedang ditunggu satu bencana bersejarah lagi setelah empat bencana tedahulu yakni Letusan dahsyat gunung Krakatau, pada 27 Agustus 1883, Letusan gunung St. Hellens di negara bagian Washington, AS, pada 18 Mei 1980, gempa di Chilie, pada 22 Mei 1960 & letusan gunung Pinatubo di Philipina, pada 12 Juni 1991. Tanggal kejadiannya & lokasinya tidaklah diketahui namun pasti terjadi.

Kesadaran masyarakat Bali nampaknya perlu dicontoh karena upaya pemulyaan alam – memayu hayuning bawana setiap hari secara bergilir warga masyarakat mengadakan acara ritual ”Sedekah Bumi”, dengan harapan Bumi Pertiwa berkenan menahan amarahnya dan atau berkenan mengurangi ekses negatif. Karena bila patahan dan pergeseran gempa yang dari timur (Meraoke) ke arah barat sementara yang dari barat (Sabang) ke timur dikawatirkan gunung – gunung pada batuk dan yang mengerikan manakala Gunung Krakatau pun ikut kurda bisa jadi Benua Atlantis yang telah diketemukan ini akan hilang lagi setelah banyak gunung api bawah laut ditemukan baik di sebelah barat Bengkulu dan di perairan Sangihe Talaut itu..

Bangsa ini tidak perlu pesimis karena berbagai potensi ada di bumi pertiwi ini hanya saja harus ada kemauan yang ekstra keras dengan persatuan dan kesatuan bangsa demi melaksanakan amanat Proklmasi apa lagi telah dijanjikan – NYA :”Dimana ada kesulitan di situ ada kelapangan” (QS : Al Insyirah ayat 5. Ayat 4 nya : “Dan KAMI angkat keharuman namamu”. Asalkan bangsa & Negara ini mau return to nature, return to spiritual value dan atau return to Pancasila, karena QS ;: Al – Fajr ayat 28 : “Kembalilah kepada TUHAN – mu dengan senang dan disenangi”. Mampukah?.

Maka untuk memberdayakan anugerah itu Bung Karno menyatakanbahwa: “Revolusi adalah perjuangan : QS : Ar Ra’d ayat 11 : Inallaha la yu ghoyiru ma bikaumin, hatta yu ghoyiru ma biamfusihim”.

Firman TUHAN itulah gitaku : TUHAN tidak merubah nasib sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merubah nasibnya sendiri”. (Pidatonya pada 17/08/63, "GESURI" di Istana Gelora Bung Karno).

Akhirnya nyumanggaaken para kadang sidang pembaca yang wicaksana berbudi bawa laksana//jenang sela wader kalen sesonderan apuranta yen wonten lepat kawula. SASTRO (HAR)JENDRO HAYUNINGRAT PENGRUWATING DIYU DIYU”! JAYA – JAYA – JAYA WIJAYANTI TETEP JAYA NGADEPI BEBAYA DENGAN RASA ELING & WASPADA SERTA BERSERAH DIRI SECARA TOTAL KEHARIBAAN SANG KHALIQ. Rahayu widada mulya! Jaya//salam.Pemulung


· · Bagikan
    • Bani Efendi
      wiyosan Bani Senen Pon [11] di[baca satu-satu ] , catatan sepuh ing nguni 11 = bermula lahir merga wong pada lali jalaran kasengsem pikantuk kamardikan.
      semua angka yang merujuk 11 pada perhelatan alam adalah pembenaran bahwa menungsa lali karo sing gawe uripe ,prilaku egois
      semakin menyata ketika walaupun berkumpul bersama dihadapan tuhannya tetep saja tidak bisa menyingkirkan sikap egoisnya.
      Adalah wajar jika alam akhirnya ikut egois jadilah seri atau satu-satu [ egois manusia - egois alam ] hasilnya ......semio buwana loka.
      Dan Revolusi Spiritual adalah ketetapan yang pasti terjadi ..sebelum berubah wujud menjadi Revolusi Sosial & Ideologi....//
      4 jam yang lalu · · 1 orang ·