Jumat, 09 September 2011

KEINGINAN FOUNDINGS FATHER YANG BELUM TEREALISIR ATAS PEMBENTUKAN “DAERAH SUPRA ISTIMEWA BUMI MENTAOK” & MAUSOLEUM PROKALAMATOR

A.PEMBENTUKAN DAERAH SUPRA ISTIMEWA BUMI MENTAOK

1. PENGERTIAN BUMI MENTAOK

Para pemerhati sejarah mungkin tidak asing lagi dengan istilah “ALAS MENTAOK” yakni suatu kawasan perdikan di bawah kekuasaan Raja Pajang Sultan Hadiwijoyo, sang menantu Sultan Trenggono (putra bungsu R. Patah), raja III Demak yang bergelar “Sultan Sah Alam Akbar III (1520 – 1559) yang bernaman Ratu Mas, anak nomer ke delapan dari Ibu Ratu Mas Panggung. Sultan Hadiwijaya yang memiliki garis lurus dari Brawijaya Pamungkas ini mendirikan kerajaan Pajang (kerajaan Demak kemudian atas izin Sultan Hadiwijaya diampu atau diwakili oleh Kanjeng Susuhunan Giri Prapen atau Sunan Giri III yang bergelar Kanjeng Susuhunan Tuggul Wulung, (1558 – 1582).
Nah Karena jasa Ki Ageng Pemanahan (Ki Bagus Kawung, putra dari Ki Ageng Aenis atau Ki Ageng Lawyan, Nglangkungan Surakarta) sebagai Lurah Prajurit Tamtama Kerajaan Pajang) dan putranya R. Bagus Damar, yang peparab R.B. Srubut dan atau R.B. Dananjaya, Raden Ngabei Saloring Pasar Pajang yang kemudian bernama Risang Sutawijaya yang dapat mengalahkan rival terberatnya yakni Adipati Jipang Panolan, Aria Penangsang (asuhan Sunan Kudus – Jafar Shodik) yang merasa lebih berhak atas tahta Demak karena dia sebagai putra sulung dari Raden Sangka yang bergelar Pangeran Adipati Anom Sabrang Kilen yang wafat selagi ayahandanya Sultan Demak I masih hidup sehingga dikenal sebagai Pangeran Seda Kali (Lepen) dari pada Sang menantu pamannya itu.

Sahdan terjadilah peperangan di medan laga, di tengah sungai, tombak Suta Wijaya berhasil bersarang pada lambung Aria Penangsang yang akhirnya tewas. Oleh karnanya Ki Ageng Pemanahan dihadiahi tanah perdikan yan bernama “ALAS MENTAOK” tersebut yang kemudian menjadi embrio kerajaan Mataram yang beribukota di Kota Gede, Jogyakarta. Kemudian Suta Wijaya setelah menjadi pendiri dinasti Mataram bergelar Panembahan Senopati Ing Ngalaga sebagai raja I Mataram. Belum sempat berganti nama beliau wafat di Bale Kajenar sehingga dikenal sebagai Kanjeng Sunan Seda Kajenar (1585 – 1601).

Nah sebaliknya dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia begitu Proklamasi dikumandangkan oleh Proklamator Bung Karno & Bung Hatta, pada 17 Agustus 1945, segera pada 19 Agustus 1945 Sri Sultan Hamengku Buwana IX sebagai raja Ngayogyakarta Hadiningrat segera mengirim telegram kepada Proklamator dengan mendeklarasikan diri bahwa Jogyakarta adalah bagian tak terpisahkan dari NKRI. Maka pada tanggal yang sama sebagai rasa hormat dan penghargaan, Bung Karno mengeluarkan "Piagam Kedudukan Sri Sultan HB IX dan Sri Paku Alam VIII".
Pada 5 September 1945 Sri Sultan IX dan Paku Allam VIII, mengeluarkan maklumat tentang kedudukan Jogyakarta. Sebagai nasionalis tulen yang kenyang melihat leluhurnya diperdaya oleh Belanda maka beliau menolak bujukan Belanda, untuk menjadi Wali Nagari yang memiliki kekuasaan penuh atas Jawa & Madura. NKRI adalah merupakan amanat Leluhur yang harus dilaksanakannya tanpa reserve.

Kemudian tak lama Pemerintah Pusat, pada 1 April 1946 saat kabinet Syahrir I, dimana ia sebagai Perdana Menteri, Bung Karno – Bung Hatta harus hijrah dan sekaligus menjadikan Jogya sebagai ibu kota Republik Indonesia sebagaimana tawaran Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Karena rongrongan Belanda semakin menjadi - jadi dengan puncak aksi polisionil dengan meletusnya Agresi Militer I pada 21 Juli 1947. lagi – lagi Agresi Militer II digelar pada 19 Desember 1948, dengan mengerahkan kekuatan militer hampir 140.000 prajurit termasuk 63.000 tentara KNIL yang diklaim olehnya sebagai aksi polisionil belaka.

Dalam peperangan fisik yakni perang kemerdekaan tersebut seiring dengan meletusnya aksi polisionil I & II oleh Belanda terdapat semboyan “Biarpun hanya tersisa seluas batas selebar payung berkembang, “BUMI MENTAOK” harus tetap dipertahankan kemerdekaannya”.
Lalu apa yang dimaksud dengan “BUMI ENTAOK” itu ?. Sebagaimana kesaksian dan usaha (Alm) R.M. Sawito Kartowibowo sebagai anak angkat Proklamator (baik Bung Karno dan Bung Hatta). Gagasan tersebut diberitahukan langsung oleh Sri Sultan HB IX kepada Sawito sambil beliau mengeluarkan peta bumi “Jawa Tengah” cetakan 1939 sambil menjelaskan bahwa yang disebut “BUMI MENTAOK” (BM) dewasa ini telah menjadi berbagai wilayah karesidenan seperti : Kediri, Madiun, Surakarta, Jogyakarta, Kedu dan Banyumas. Kalaulah direnungkan BM tak beda jauh dan mirip dengan wilayah “REPUBLIK RENVILLE”, yang ditetapkan atas dasar perjanjian R.I. dengn Pemerintah Belanda di atas KP “US Renville” pada 17 Januari 1948 yang sandar di Pelabuhan Tanjung Priok.
Perlu dipahami bahwa :
Sebagai inti sel maka bila baik maka baiklah seluruh Nusantara dan sebaliknya bila nucleus itu rusak maka rusaklah seluruh Nusantara . Maka nenek moyang memiliki semboyan “Biarpun hanya tersisa seluas batas selebar payug berkembang”, BM harus tetap dipertahankan kemerdekaannya. Agar di hari kemudian masih tersedia tanah pijakan buat menuntut & merebut kemerdekaan negeri warisan nenek moyang kembali dari penjajahan asing. Tidak dapat dinafikan bahwa BM sebagai pijakan mengusir penjajah asing & sebagaai suh – tali pengikat persatuan dan kesatuan tanah air turut mengukir & mengagungkan sejarah perjuangan nasional Indonesia seutuhnya. Wilayah BM sebagai medan magnit yang memiliki kekuatan daya alami atau disebut supra natural, power yang ghoib/misteri sifatnya yang diketahui berdaya guna handal dan khas sebagai daya ikat penyatu kekuatan alam Nusantara & mampu mendorong semangat & daya dorong kaum pribumi asli sehingga berdaya tolak terhadap sesuatu yang berbau asing bagi peri kehidupan yang dapat merusak keaslian alam & budaya Nusantara.
Wilayah dimaksud membentang dari Sumberpucung di timur berbatas Sungai Brantas, pesisir berikut Samudera Indonesia berbandar Cilacap di batas selatan dan berbatas daerah Banyumas di barat. Sedangkan sebelah utara adalah daerah pegunungan tengah Pulau Jawa berhulu di lereng Gunung Merbabu (dulu : Candramuka) di atas Boyolali. Peta Bumi Mentaok sendiri berpusatkan di “GUNUNG TIDAR” (terlampir).

Karena status yang demikianlah oleh Foundings Father direncanakan berdirinya “Daerah Istimewa yang berwilayahkan BM dengan ibu kota sementara Yogyakarta”.
Karena itu merupakan amanat, maka Sanggar Blokosuto, Jakarta (yang kemudian agar lebih berdaya guna dalam ikut andil berkiprah pada kembalinya jati diri bangsa maka gerakan moral tersebut kemudian dinamakanlah “YAYASAN LEMBAGA BUDAYA NUSANTARA”) dengan menyelenggarakan sarasehan pada 19 Februari 2000 di Gunung Putri, Bogor di kediaman Ir. Soepomo MSc., dengan thema : “MEMBANGUN TLATAH PUSAT PERADABAN INDONESIA & MENYOBEK PERJANJIAN GIYANTI” dengan menghadirkan nara sumber RM. Sawito Kartowibowo penerima penghargaan HAM dan abolisi dari Presiden Abdurrahman Wahid seiring kasus subversif yang dituduh ingin menggulingkan rezim Pak Harto, yang dihadiri pula oleh utusan Kraton Surakarta Hadiningrat, yakni KRMH. Ir. Rekso Kanigoro (Ir. Rudi Subanindra) dan beberapa tokoh budayawan & spiritual serta beberapa LSM.

Dalam sarasehan muncullah wacana untuk melanjutkan gagasan tersebut sehingga beberapa peserta menawarkan beberapa nama yakni :
Daerah Supra Istimewa Bumi Mentaok Daerah Istimewa Kebangsaan Indonesia Daerah Supra Istimewa Bumi Mentaok Daerah Istimewa Menjala Kemadumas (Mentaok, Jogya – Sala, Kediri, Madiun, Kedu dan banyumas). Dan atau apapun namanya.
Dengan harapan dapat dimotori oleh kerajaan Jogyakarta Hadiningrat dengan Surakarta Hadiningrat berkenan bersatu kembali setidaknya demi keluhuran (sejarah bumi Mataram) yang sekaligus diharapkan mampu sebagai salah satu solusi atas polemik D. I. Yogyakarta guna mengatasi kendala sehubungan dengan diberlakukannya otonomi daerah (otda) dan RUUK DIJ kala itu. Serta kemudian muncullah pula tuntutan masyarakat dan Kraton Surakarta Hadiningrat agar Surakarta menjadi Daerah Istimewa.

Sosialisasi gagasan tersebut pernah disampaikan ke Bupati dan Wali Kota yang memimpin di kawasan Bumi Mentaok tersebut dengan mengirimkan Ucapan Selamat Tahunbaru 1 Suro, dan juga surat ke MPR & DPR.
Nah apakah Pemerintah dan atau DPR serta MPR mau mewujudkannya tentu bukanlah domain penyaji lagi, karena hanya sebagai duta idiologis semata sebagai anak bangsa. Nah dengan polemic serta seretnya pembahasan RIIK DIJ yang hingga kini masih saja belum purna dan seiring tuntutan masyarakat/Kraton Surakarta Hadiningrat untuk mengambil haknya sebagai Daereah Istimewa Surakarta maka demi baktinya kepada Foundings fathers alangkah bijak dan bajik bila wacana pembentukan kawasan medan mahnit sebagai nucleus – kern – inti sel Nusantara itu mendapat perhatian yang selayaknya dengan mewujudkannya gagasan foundings fathers tersebut.

2.BUKTI BUMI MENTAOK SEBAGAI MEDAN MAGNIT BAGI NUSANTARA

Berbahagia dan bersyukurlah bangsa Nusantara ini yang dianugerahi TUHAN dengan kekayaan dan keindahan tanah air yang tiada duanya di dunia ini.

a. Sejak ditemukan awal kehidupan kemanusiaan (yang oleh pakar bangsa Belanda disebut :
Als de bakermat van een der vroegste rassen dermensheid yakni adanya bukti
diketemukannya manusia purba homo sapien "pitecantropus erektus" yang kini
disebut dengan istilah "homo erektus", dari Trinil, atau juga homo erektus
Palaejovanic, homo erektus robustus & homo erektus Soloences.
b. Bukti berikutnya yang termasuk keajaiban dunia, seperti dengan berdirinya Borobudur
atau yang disebut dengan Bumi Sambhara Bhudara itu. Juga Candi Loro Jonggrang
(Prambanan).
c. Juga bekas kerajaan Mataram Kuno, Mojopahit, Kediri, Pajang, Mataram Islam sampai
kraton Ngayogyakarta dan Surakarta dll. yang hingga kini masih menjadi pusat budaya
termasuk artefax, prasasti dan candi – candinya.
d. Balita NPKRI dapat diselamatkan dengan peran dan sentuhan wilayah BM
utamanya Yogyakarta sebagai “Ibu kota Negara Republik Indonesia”. Yang
sekaligus sebagai kawah candradimuka untuk mempersiapkan bangsawan
karakter yang patriotic.
e. Di ujung timur yakni daerah Blitar dikabarkan terdapat suatu kawasan
medan magnit sungguhan dimana terdapat jalan menanjak dan sekalipun
mobil di ”NOL”kan presnilingnya toh mobil ybs. dapat merayap ke atas
dengan sendirinya. Dan terdapat “Gunung Kikik” di desa Ngadri, Kecamatan
Binangun, Blitar disana terdapat monumen dan menurut tetua masyarakat
bila ada pesawat melintas diatasnya akan jatuh tersedot oleh magnit.
f. Bahkan di candi Panataran konon ada satu titik yang memiliki kekuatan “Anti
Gravitasi”, yang oleh penemunya akan menerbitkam bukunya.
g. Di ujung Barat, Banyumas terdapat kurang lebih 200 M gaya magnit bumi di
desa Limpa, Kuas, Sumbang. Perlu adanya penyelidikan oleh para ahli dan
geolog termasuk yang di Blitar dll.
h. Begitu banyak negarawan dan dipa negara serta bayangkara Negara yang
terlahir dari kawasan BM tersebut. Seperti : Sodancho Soepriyadi, Jenderal
Sudirman, jenderal A. Yani, Jenderal Soeharto dan lain sebagainya.
i. Terdapat suatu kawasan di Imogiri, Bantul bahwa tanahnya sangat disukai
oleh wanita yang sedang mengandung yang disebutya dengan “Ampo”, yang
setelah dibakar enak untuk dimakan.
j. Ada pendapat bahwa belum disebut sebagai manusia Jawa sebelum anak –
anak bangsa yang bermukim di luar negeri belum mencium BM.
k. Di daerah Jogyakarta terdapat gunung dimana batunya sekalipun tanpa
proses bila terkena air maka akan mendidih dan mejadi kapur (injet) serta
ada gunung menyan dimana batunya langsung dapat dibakar dengan aroma
lebih harum dibanding dupa hiu itu sendiri. Juga tambang demkerem.
l. Gunung Tidar yang diyakini oleh sebagaian masyarakat sebagai Pakunya
Pulau Jawa, pernah dilaporkan oleh NASA memancarkan sinar putih dan oleh
sebagian kaum spiritualis diyakini diperut buminya terdapat Korong magma
yang sungguh dahsyat. Dan digunung itu pulalah petilasan makan Syech
Subakir berada.
m. Secara mitologis terdapat kerajaan Pantai Laut Selatan dan Laut (dalam)
Segara Kidul yang diyakini sebagai wali ghaoib Tanah Jawa yang karena
keawaman kita menyebutnya sebagai tahyul, musyrik dan sirik, sementara
banyak yang tidak paham tentang sosok Sang Hyang Baruno (Hindu) atau
Nabi Khidir A.S. (Islam), yang hidup sepanjang masa, lalu apakah ada
hubungannya ? Maka ada baiknya dari pada menghujat akan bijak & bajik
serta arif tidak berpendapat karena bila mereka itu benar birokrat – NYA,
artinya kita pun telah pula mengutuk – NYA. Sedangkan yang ghoib itu Kuasa
dan karsa TUHAN pula. Maka upacara ritual yang dilakukan oleh Kraton Jogya
dan Solo biarlah berjalan sebagaimana dilakukan oleh nenek moyangnya
karena bisa jadi itu bentuk synergi antara alam dengan kraton yang masih
ada di Nusantara ini demi terjadinya keseimbangan alam dengan
penghuninya itu sendiri.

Dan masih banyak bukti – bukti lain yang belum disajikan dalam sajian ini lalu apakah anugerah – NYA tersebut tetap saja kita sia – siakannya, sehingga kita dicap sebagai generasi yang “kufur nikmat dan sekaligus sebagai generasi yang durhaka” ?

3.WILAYAH TERITORRIAL BUMI MENTAOK

Perlu dicatat bahwa dalam suasana Otonomi Daerah (Otda), BM sebagai Medan magnit itu meliputi tiga Propinsi yakni antara lain :
Jawa Timur : Blitar, Kediri, Tulung Agung, Nganjuk, Ponorogo, Pacitan Ngawi (7). Jawa Tengah : Wonogiri, Karanganyar, Sukaharjo, Klaten, Boyolali, Kodya Surakarta, Kab. Semarang (sebagian), Salatiga, Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purwarejo, Kebumen, Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas, Cilacap (17). D. I. Jogyakarta : Gunung Kidul, Bantul, Sleman, Kulonprogo dan Kodya Jogyakarta (5).
Medan magnit tersebut tersebar pada 29 daerah tingkat dua (kabupaten/kota), sehingga para bupati dan wali kota kalaupun tidak menyetujui pembentukan daerah istimwewa seyogyanya mereka diharapkan bersyukur kepada TUAN SERU SEKALIAN ALAM dan semboyan bahasa Latin “Nobles oblige”, Kekuasaan membawa tanggung jawab yang seharusnya ditujukan kepada apa & bagaimana para pejabat public tersebut tahu, mau & mampu mensejahterakan warganya dan melaksanakan amanat Proklamasi.
Akhirnya nyumanggaaken kawicaksanan para sidang pembaca dan salam kami/SAMPURNA

YAYASAN LEMBAGA BUDAYA NUSANTARA